Jumat, 13 November 2009

MATERI PIDATO PENGUKUHAN
GURU BESAR PEMASARAN/TATANIAGA HASIL PERIKANAN
PADA PROGRAM STUDI SOSIAL EKONOMI PERIKANAN FAKULTAS PERIKANAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
Oleh: Emmy Sri Mahreda
Tanggal 28 Januari 2009
---------------------------------------------------------------------------------------------------
Bismillaahirrahmaanirrahiim,
Assalammu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh...
Yang saya hormati:
1. Ibunda Nor’alimah dan Ibu mertua Hj.Noorsehan
2. Rektor Universitas Lambung Mangkurat
3. Rektor Universitas Swasta/ Ketua Yayasan di Kalimantan Selatan
4. Seluruh Guru Besar Universitas Lambung Mangkurat
5. Ketua Senat dan Seluruh Anggota Senat Universitas Lambung Mangkurat
6. Gubernur Provinsi Kalimantan Selatan
7. Ketua DPRD Kalimantan Selatan
8. Bupati/Walikota se Kalimantan Selatan
9. Seluruh dosen di lingkungan Universitas Lambung Mangkurat dan Universitas swasta di Kalimantan Selatan
10. Seluruh keluarga, kerabat dan teman-teman
11. Seluruh undangan yang berkenan hadir pada kesempatan ini.

Dipanjatkan Puji Syukur kehadirat Allah S.w.t. atas segala rahmat dan karuniaNya sehingga saya dapat melaksanakan tugas fungsional dosen dan pada hari ini tanggal 28 Januari 2009 saya menyampaikan pidato pengukuhan Guru Besar dihadapan para hadirin yang terhormat. Tak lupa saya ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang memberi semangat dan dukungannya kepada saya dan semoga kita selalu mendapatkan Rahmat dan Lindungan serta Ridho Allah S.W.T.
Pada Kesempatan ini dengan segala kerendahan hati, perkenankanlah saya menyampaikan pidato pengukuhan ini yang naskahnya ada ditangan bapak-bapak, ibu-ibu dan saudara sekalian dengan judul ” Prospek Pasar Domestik dan Strategi Ekspor Produk Perikanan Sebagai Sumber Pertumbuhan Ekonomi”. Tulisan ini disampaikan atas dasar pertimbangan kecenderungan menurunnya produksi perikanan Kalimantan Selatan dan menurunnya volume dan jenis ikan yang diekspor disebabkan karena berbagai masalah yang dihadapi. Sementara permintaan dan harga ikan dunia terus meningkat sehingga perlu solusi dan dasar pemikiran. Disisi lain, pasar domestik yang sangat menjanjikan, telah tumbuh dan berkembang seiring dengan semakin meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap ikan sebagai sumber protein hewani yang bergizi tinggi dan semakin membaiknya produksi budidaya untuk berusaha memenuhi kebutuhan pasar lokal, antar provinsi, antar pulau yang juga sangat tinggi dan solusi sasaran ekspor mendukung hasil tangkapan di laut yang sudah menurun tajam baik kualitas maupun kuantitasnya.

Hadirin yang saya hormati...
Secara geografis Indonesia memiliki lebih banyak perairan yang berarti lebih banyak memiliki potensi perikanan untuk meningkatkan nilai ekonomi. Besarnya potensi sumber daya alam perikanan Indonesia, memberikan peluang besar bagi sektor kelautan dan perikanan sebagai sektor andalan nasional dan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Kekayaan sumber daya alam perikanan Indonesia merupakan keunggulan komparatif yang dapat digunakan sebagai modal dasar bagi pertumbuhan ekonomi pembangunan kelautan dan perikanan (Mahreda , 2002 ).
Alasan utama sektor kelautan dan perikanan sebagai new sources of economic growth adalah 1). Supply capacity sangat besar sedangkan permintaan terus meningkat, 2). Pada umumnya output dapat diekspor untuk memperoleh dollar (US$) dan input berasal dari sumber daya lokal (Rp), 3). Membangkitkan industri hulu dan hilir, sehingga mampu menyerap tenaga kerja yang banyak, 4). Memiliki efisiensi usaha relatif tinggi, , 5). Umumnya berlangsung di daerah, 6). Industri perikanan, bioteknologi dan pariwisata bahari bersifat dapat di perbaharui (renewable resources), untuk Mendukung pembangunan berkelanjutan (Departemen Kelautan dan Perikanan RI, 2007).
Meski terbukti Indonesia memiliki potensi sumber daya perikanan yang besar, namun harus diakui bahwa dibandingkan dengan negara-negara lain, Indonesia memiliki potensi terendah dalam hal daya saing. Contohnya adalah negara Islandia, dengan GNP/kapita = US $ 26.000, sebesar 65% (Gross Domestic Product) berasal dari perikanan, Filipina dengan jumlah pulau 7.200 buah, dapat mengekspor rumput laut sebesar US $ 700 juta tahun 2000, sedangkan Indonesia hanya mampu menghasilkah US $ 45 juta, di sisi lain 60% raw materials rumput lautnya dikirim dari Indonesia, Thailand dengan panjang garis pantai 2600 km, luas tambak udangnya 80.000 ha, produksi udang tahun 2002 sebesar 340.000 ton, sementara Indonesia hanya 80.000 ton. Demikian juga dengan nilai ekspor perikanan Thailand sebesar US $ 4,2 milyar, Indonesia hanya US $ 1, 76 milyar (Departemen Kelautan dan Perikanan, RI 2004).
Dalam rangka pemanfaatan sumber daya kelautan dan perikanan, perlu dicermati masalah globalisasi dan otonomi daerah. Belum optimalnya kinerja ekspor hasil perikanan ini dapat disebabkan oleh berbagai kendala, terutama mutu hasil tangkapan yang rendah, kapal penangkap ikan nelayan yang tidak dapat menjangkau jauh ketengah laut, dan hambatan tarif dan non tarif. Contohnya, Amerika Serikat melakukan embargo sebagian besar produk perikanan kita dengan alasan mutu yang rendah. Uni Eropa yang telah mengenakan tarif bea masuk impor yang tinggi dan standar mutu yang sangat ketat pada produk perikanan Indonesia. Oleh sebab itu perlu kerja sama dan kinerja yang lebih baik dan peningkatan kualitas dan kuantitas hasil perikanan kita agar dapat bersaing di pasar dunia didukung kebijakan pemerintah daerah dan pusat yang produktif.
Di sisi lain, adanya pemberlakuan otonomi daerah bagi sektor kelautan dan perikanan, dapat memberikan 2 (dua) masalah penting, yaitu daerah dituntut kemampuannya untuk mengidentifikasi seluruh potensi dan nilai ekonomi sumber daya kelautan dan perikanan. Hal ini tentu akan akan mempermudah formulasi kebijakan pendayagunaan potensi yang ada. Selain itu, agar tercapai pengelolaan terhadap sumber daya kelautan dan perikanan secara tepat dan memperhatikan sustainable development. Perlu diketahui bahwa UU No. 22/1999 PEMDA berwenang mengelola laut 12 mil wilayah laut dari garis pantai oleh pemerintah provinsi dan 4 mil lautnya akan menjadi kewenangan Pemerintah Daerah Kabupaten /Kota (Departemen Kelautan dan Perikanan RI, 2002).
Realitas globalisasi dan otonomi daerah yang demikian, maka dituntut kehadiran sumber daya manusia yang kompatibel sesuai dengan tuntutan pasar domestik/global, aspek kelestarian lingkungan, dan ramah terhadap tatanan sosial, memiliki jaringan dengan pelaku pengusaha perikanan negara lain, dan mampu sebagai pelaku usaha perikanan dan kelautan masa depan dengan mengantisipasi berbagai persoalan rendahnya produktivitas usaha, kualitas serta perkembangan teknologi.
Potensi perikanan Kalimantan Selatan yang terdiri dari potensi perairan laut, sungai dan rawa sebenarnya merupakan sumber produksi perikanan yang mampu diandalkan untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal, antar provinsi, antar pulau dan ekspor. Hal ini dapat terjadi jika potensi yang ada dimanfaatkan optimal dengan perencanaan jangka panjang, terkoordinasi dengan lebih baik, dan pembinaan yang lebih efektif dari pemerintah dan pihak lain yang memiliki kepedulian terhadp sumberdaya alam yang renewable ini.

Hadirin yang saya hormati...
Jika kita lihat jumlah produksi perikanan Kalimantan Selatan menurut sektor pada tahun 2006 dan 2007, terlihat adanya penurunan pada penangkapan dil aut. Penangkapan di laut menurun dari 121.494,8 ton menjadi 98.681,7 ton. Sedangkan produksi perikanan darat/perairan umum tahun 2006 dan 2007 naik dari 49.664,6 ton menjadi 53.562,6 ton. Secara rinci, perikanan budidaya (tambak, kolam, keramba, sawah, dan jaring apung) tahun 2006 dan 2007 rata-rata naik dari 15.016,8 ton menjadi 22.571,5 ton (Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Kalimantan Selatan, 2007). Dari angka-angka tersebut, terlihat bahwa untuk perikanan budidaya lebih prospektif dan potensial untuk dikelola dan dikembangkan. Sedangkan perikanan laut menurun tajam sehingga perlu mendapat perhatian dan solusi. Ditinjau dari potensi perikanan yang dimiliki Kalimantan Selatan, produksi ini hanya sebagian kecil yang dimanfaatkan, yaitu untuk sumberdaya penangkapan dilaut potensi lestarinya sebesar 270.000 ton dengan produksi yang diperoleh 98.681,7 ton berarti hanya termanfaatkan 36.5%, sedangkan budidaya (tambak, kolam, keramba, sawah, jaring apung, net tancap) potensinya seluas 55.782,0 Ha sedangkan yang dimanfaatkan hanya sebesar 11.051,8 Ha yang berarti pemanfaatannya baru mencapai 19,8% (Laporan tahunan Diskanlut, Sub Bagian Program, 2007). Namun, jika kita lihat data produksi total tahun 2005 terjadi penurunan yang tajam. Produksi total perikanan tahun 2005 sebesar 203.395,6 ton menurun menjadi 186.176,2 ton tahun 2006, terus menurun menjadi 98.681,7 ton tahun 2007. Masih terdapat optimisme peningkatan produksi dan perbaikan mutu hasil tangkapan pada masa yang akan datang berdasarkan peluang yang ada. Misalnya dengan armada kapal penangkapan yang lebih besar dan canggih seperti peralatan nelayan dari Jawa yang mampu secara rutin menangkap hasil-hasil perairan Kalimantan Selatan. Dengan demikian nelayan kita tidak hanya menjadi penonton tetapi mampu bersaing dengan saudaranya yang lain di perairan Nusantara. Tentunya hal ini perlu bantuan Pemerintah Provinsi/Kabupten dan DPR Provinsi/Kabupaten untuk mendukung kegiatan tersebut. Demikian juga dengan produksi budidaya karena masih tersedianya potensi lahan yang cukup luas. Kapan perairan rawa Kalimantan Selatan menjadi lumbung ekspor ikan pepuyu dan haruan seperti yang sudah lama aktif dilakukan oleh negara Thailand misalnya ke Arab Saudi. Jika kita lihat perkembangan produksi dan volume ekspor hasil perikanan Kalimantan Selatan, semua komoditi hasil tangkapan di laut yang diekspor menurun tajam, bahkan ada yang tidak diekspor lagi karena tidak ada produksi dan rendahnya mutu serta manajemen perusahaan.
Perkembangan volume ekspor hasil perikanan dapat dilihat pada tabel 1 dan 2.

Tabel 1. Perkembangan Produksi Perikanan menurut sektor perikanan
Kalimantan Selatan tahun 2006-2007
No SUB SEKTOR Produksi (ton)
Tahun 2006 Produksi (ton)
Tahun 2007
Jumlah 186.176,2 174.815,7
1. Perikanan Laut:
1.Penangkapan
2. Budidaya
121.494,8
2.420,9
98.681,7
6.064,9
Sub Jumlah 62.260,5 70.069,1
2. Perikanan darat:
Perairan Umum
49.664,6
53.562,6
Sub jumlah 12.595,9 16.506,6
Budidaya:
1. Tambak
2. Kolam
3. Keramba
4. Sawah
5. Jaring apung
6. Net tancap
3.415,1
4.927,1
3.713,2
113,3
423,5
3,7
6.027,0
5.976,3
3.727,9
265,2
505,0
5,3
Sumber: Laporan Tahunan Statistik Perikanan dan Kelautan Kal-Sel, tahun 2007.

Pada tabel 1. produksi secara keseluruhan menurun dari tahun 2006-2007. Penurunan tersebut terjadi pada perikanan tangkap, meskipun terjadi peningkatan pada budidaya laut dan darat, serta perikanan darat. Perikanan tangkap di laut yang menurun jelas disebabkan oleh kurangnya fasilitas kapal penangkap ikan yang memadai atau yang lebih besar yang dapat menjangkau ke tengah laut atau dengan kata lain menjangkau ≥ 12 mil laut, sementara ikan di daerah penangkapan nelayan yang dibawah 12 mil laut atau seputar 4 mil laut kebawah sudah menipis karena semua kapal nelayan menangkap disana. Selain daerah penangkapan di sekitar pantai yang sudah kelebihan tangkap (over fishing) kondisi pantai dan perairan sekitarnya diduga sudah mulai tercemar akibat menipisnya hutan mangrove yang ditebang untuk keperluan areal tambak, pelabuhan batu bara, dan kegiatan lainnya sehingga menurunkan hasil dan mutu ikan tangkapan nelayan. Perkembangan volume ikan yang di ekspor Kalimantan Selatan sebagai berikut:

Tabel 2. Perkembangan Volume Ekspor Hasil Perikanan Kalimantan Selatan
tahun 2006-2007.

No. Jenis komoditas Volume (ton)
Tahun 2006 Volume (ton)
Tahun 2007 Penurunan
(%)
1.Udang Beku 3.008,90 2.870,10 -4,61
2.Bulus/labi-labi hidup 53,88 23,10 -57,13
3. Kura-kura Hidup 0,40 - -100,00
4. Sotong Beku 33,00 - -100,00
5. Rumput Laut 32,60 - -100,00
6. Cumi-cumi 20,00 - -100,00
Jumlah 3.148,78 2.893,20 -8,12
Sumber: Laporan Tahunan Diskanlut Provinsi Kal-Sel 2007

Hadirin yang saya hormati...............

Total volume ekspor perikanan tahun 2006-2007 turun dari 3.148,78 ton menjadi 2.893,20 ton atau turun sebesar 8,12 %. Jika kita lihat perbandingan produksi total dengan volume ekspor dan antar pulau, maka terlihat ekspor dan antar pulau masih sangat kecil dibandingkan dengan jumlah produksi. Jumlah produksi tahun 2007 sebesar 174.815,7 ton, sedang ekspor dan antar pulau tahun 2007 hanya mencapai 2.893,2 ton dan 19.011,46 ton. Berarti ekspor perikanan tahun 2007 hanya sebesar ±0,06% dari total produksi, dan antar pulau hanya ±9,2% dari total produksi perikanan Kalimantan Selatan. Hal ini menunjukkan lemahnya ekspor perikanan kita dan bahkan cenderung terus menurun jika tidak segera kita ambil langkah-langkah strategis.
Menurut Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Kalimantan Selatan dan hasil penelitian, hal ini disebabkan karena menurunnya kualitas ikan hasil tangkapan nelayan, dan turunnya jumlah jenis komoditi ikan yang diekspor. Pada tahun 2006 jenis ikan yang diekspor adalah udang beku, bulus/labi-labi hidup, kura-kura hidup, sotong beku, rumput laut, dan cumi-cumi, sebanyak 6 jenis komoditi sedangkan pada tahun 2007 jenis komoditi yang diekspor hanya udang beku dan sedikit bulus/labi-labi saja. Turunnya jenis komoditi yang diekspor disebabkan karena produksi yang menurun tajam dan mutu yang rendah sehingga tidak dapat memenuhi standar ekspor. Kualitas ikan hasil tangkapan nelayan yang menurun disebabkan karena menurunnya kualitas air laut di daerah penangkapan nelayan. Menurunnya kualitas air laut di Kalimantan Selatan dapat disebabkan berbagai hal antara lain karena limbah/pencemaran industri dan aktivitas bongkar muat transportasi batubara di perairan. Namun, penurunan yang lebih parah lagi jika kita lihat perbandingan dari tahun 2002 dengan 2007 (selama 5 tahun) terakhir. Pada tahun 2002 volume ekspor kita mencapai 6.277,92 ton dibandingkan dengan tahun 2007 yang hanya mencapai 2.893,20 ton. Berarti selama 5 tahun terakhir terjadi penurunan ekspor sebesar 53,91%. Hasil ini menunjukkan bahwa kita perlu melakukan strategi ekspor untuk masa yang akan datang. Sedangkan perkembangan nilai ekspor perikanan kita dapat dilihat pada tabel 3.

Tabel 3. Perkembangan Nilai Ekspor Hasil Perikanan Kalimantan Selatan tahun
2006-2007.

No. Jenis komoditas Nilai (1000 US$)
Tahun 2006 Nilai (1000) US$
Tahun 2007 Penurunan
(%)
1.Udang Beku 13.038,70 13.038,70 0,00
2.Bulus/labi-labi hidup 215,52 92,40 -57,13
3. Kura-kura Hidup 1,60 - -100,00
4. Sotong Beku 17,80 - -100,00
5. Rumput Laut 14,50 - -100,00
6. Cumi-cumi 100,00 - -100,00
Jumlah 13.388,12 13.131,10 -1,92
Sumber: Laporan Tahunan Diskanlut Provinsi Kal-Sel 2007.

Nilai ekspor ikan sebesar 13.388,12 (1000 US$) turun menjadi 13.131,10 (1000 US$) atau turun sebesar 1.92%. Hal ini seiring dengan penurunan produksi perikanan laut, turunnya volume ekspor dan turunnya mutu serta turunnya produksi dan pengiriman perusahaan ekspor dari tahun 2006 sampai 2007.


Tabel 4. Perkembangan Volume Antar Pulau Hasil Perikanan Kalimantan
Selatan tahun 2006-2007.
No Jenis Komoditi Volume (ton)
Tahun 2006 Volume (ton)
Tahun 2007 Penurunan
+/- (%)
1 Ikan kering 8.010,40 11.515,87 +43,76
2 Ikan segar 7.568,06 7.447,32 -1,60
3 Udang segar 41,52 4,20 -89,88
4 Rajungan 30,66 7,17 -76,61
5 Udang Beku - 6,00 0,00
6 Labi-labi hidup - 14,67 0,00
7 Belut - 3,50 0,00
8 Kepiting 0,20 12,73 +6.265
Jumlah 15.650,84 19.011,46 +21,47
Sumber: Laporan Tahunan Diskanlut Provinsi Kalimantan Selatan 2007.


Hadirin yang saya hormati................
Berdasarkan tabel 4, penjualan ikan antar pulau dari tahun 2006-2007 cukup menggembirakan yaitu mengalami kenaikan sebesar 21,47%. Hal ini disebabkan karena bertambahnya jenis ikan yang dikirim antar pulau dan meningkatnya permintaan dari pulau Jawa. Pada tahun 2006 jenis ikan yang dikirim adalah ikan kering, ikan segar, udang segar, rajungan, dan kepiting sedangkan pada tahun 2007 jenis ikan yang dikirim bertambah yaitu jenis udang beku, labi-labi hidup dan belut. Demikian juga dengan volume penjualan jenis ikan kering yang meningkat cukup tajam yaitu naik sebesar 43% pada tahun 2007 dibandingkan tahun 2006. Pengiriman antar pulau dilakukan ke Surabaya dan Jakarta dengan transportasi laut dan udara. Berarti, meskipun ekspor menurun tetapi masih ada prospek pasar antar pulau (permintaan meningkat). Menurut hasil penelitian saya (2008) tentang permintaan dan penawaran ikan antar pulau, bahwa permintaan ikan antar pulau terhadap produksi ikan Kalimantan Selatan sangat tinggi melebihi dari produksi ikan Kalimantan Selatan. Jadi selama ini berapapun produksi ikan Kalimantan Selatan akan terserap oleh pasar antar pulau.
Fakta sebenarnya menunjukkan bahwa pasar domestik perikanan Kalimantan Selatan, mempunyai prospek yang juga tinggi untuk meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD). Menghadapi krisis ekonomi global di tahun-tahun terakhir ini, persaingan semakin kuat datang dari berbagai negara pengimpor potensial produksi perikanan dan kelautan. Oleh karena itu perlu dilakukan langkah yang tepat untuk memperkuat ekonomi dalam negeri/daerah. Berkaitan dengan peranan hasil perikanan sebagai bahan makanan berprotein tinggi untuk mencerdaskan bangsa dan dengan potensi yang begitu besar, maka pangsa pasar ikan akan dapat berpeluang besar dalam meningkatkan pendapatan nelayan dan petani ikan (Susenas,1997). Hal ini didukung oleh banyaknya ikan yang didistribusikan di daerah/lokal, antar provinsi dan antar pulau. Kenyataan lain, hasil penelitian saya membuktikan bahwa ternyata di Kalimantan Selatan distribusi dan konsumsi ikan laut masih tidak menyebar merata ke seluruh wilayah pelosok yang jauh untuk dijangkau. Oleh sebab itu, masih terbuka peluang untuk pasar lokal jika mampu didistribusikan secara lebih luas. Masih banyak daerah-daerah di pedalaman yang sulit mendapatkan ikan laut dalam kondisi segar. Di sisi lain, telah terjadi perbedaan harga ikan yang tinggi antara harga ikan di tingkat konsumen akhir (pasar) dengan harga ikan di tingkat nelayan. Lokasi pasar produksi yang sangat jauh dari pasar konsumen akhir, makin mengakibatkan terjadinya perbedaan harga yang semakin tinggi jauh melebihi harga produsen yang seharusnya dapat ditekan jika sistem pemasaran distribusinya lebih efisien. Terdapat indikasi bahwa bagian (share) nelayan/petani ikan jauh lebih rendah daripada share harga yang diterima pedagang. Hal ini disebabkan karena biaya pengangkutan yang tinggi, banyaknya pedagang perantara yang ikut berperan dalam penyaluran ikan dan adanya kolusi serta sarana dan prasarana perikanan yang kurang memadai seperti kondisi jalan dan kurangnya persediaan es balok. Selain itu, kurangnya informasi pasar dan bargaining position (posisi daya tawar) nelayan sangat lemah. Bargaining position nelayan yang lemah disebabkan karena kurangnya modal sehingga mereka sering terjerat hutang kepada pemodal/tengkulak. Akibatnya nelayan harus menjual ikannya kepada pelepas uang tersebut dengan harga yang lebih rendah/ditentukan pihak pembeli.

Hadirin yang saya hormati...
Jika memperhatikan laju pertumbuhan sektor perikanan Kalimantan Selatan tahun 2007 sebesar 4,08%, lebih tinggi dibandingkan tahun 2006 sebesar 3,12%. Hal ini dapat berdampak pada tingginya permintaan pasar terhadap produk perikanan seiring dengan meningkatnya tingkat pendidikan dan kesadaran penduduk akan pentingnya makan ikan untuk mencerdaskan bangsa karena nilai gizinya yang tinggi. Kondisi ini dapat berpengaruh terhadap semangat berusaha dibidang perikanan yang semakin tinggi di Kalimantan Selatan. Jika kita lihat konsumsi ikan/kapita masyarakat Kalimantan Selatan pada tahun 2007, telah melebihi ketentuan Widya Karya Gizi Nasional 1993 yaitu sebesar 26,55 kg/kapita/tahun tetapi tidak melampaui target konsumsi tahun 2007 seperti yang ditentukan sebesar 43,50 kg/kapita/tahun, namun yang terealisasi sebesar 36,01 kg/kapita/tahun karena krisis ekonomi yang dialami sebagian masyarakat (menengah ke bawah), namun harga ikan yang tinggi, relatif tidak berpengaruh bagi masyarakat kelas menengah keatas. Harga ikan di tingkat produsen dan konsumen Kalimantan Selatan berdasarkan data sekunder tahun 2007 dapat dilihat pada tabel 5.

Tabel 5. Harga Produsen dan Harga Konsumen per jenis ikan di Kalimantan
Selatan tahun 2007.
No. Jenis ikan Harga produsen
(Rp) Harga konsumen
(Rp)
A. Ikan Darat
1. Tawes 15.000 18.000
2. Lampan 18.000 20.000
3. Jambal 13.500 15.750
4. Gabus 27.700 31.400
5. Sepat rawa 13.400 16.700
6. Sepat Siam 17.300 20.100
7. Nilem/puyau 12.500 14.000
8. Lais 26.000 31.000
9. Tambakan/biawan 12.500 17.000
10. Betok/papuyu 24.500 27.600
11. Toman 23.4300 28.200
12. Sanggang/kelabau 22.000 20.000
13. Baung 26.800 30.000
14. Saluang 27.700 29.000
Rata-rata 20.000 22.800
B. Ikan Laut
1. Sebelah 10.000 12.500
2. Manyung 9.200 12.000
3. Merah 21.700 25.600
4. Kakap 22.000 25.300
5. Kurisi 8.750 11.700
6. Ekor kuning 12.500 15.200
7. Gulama 9.000 11.600
8. Cucut 8.700 11.500
9. Pari 9.300 11.500
10. Bawal hitam 26.000 31.150
11. Selar 7.700 10.650
12. Kuwe 10.250 15.000
13. Kerapu 16.000 13.500
14. Belanak 11.750 14.900
15. Kuro/senangin 30.200 31.800
16. Teri 20.300 23.600
17. Tembang 5.400 8.200
18. Trakulu 16.250 21.250
19. Kembung 19.000 22.500
20. Tenggiri 33.000 39.850
21. Tenggiri papan 16.500 21.250
22. Tuna 11.000 14.000
23. Cakalang 10.000 13.000
24. Tongkol 17.100 20.500
25. Cumi-cumi 33.400 37.500
26. Ebi 15.700 19.000
27. Selangat 9.500 11.750
Rata-rata 15.000 18.700
Sumber: Laporan Tahunan Diskanlut Provinsi Kalimantan Selatan, 2007.

Pada tabel 5 terlihat bahwa sebanyak 14 jenis ikan darat yang diperjualbelikan, harga ikan gabus tertinggi di tingkat konsumen sebesar Rp 31.400 sedangkan yang terendah ikan nilem/puyau sebesar Rp 14.000. Sedangkan untuk jenis ikan laut dari 27 jenis ikan yang diperjualbelikan yang tertinggi harganya adalah ikan tenggiri sebesar Rp 39.850 dan yang terendah ikan tembang sebesar Rp 8.200. Ikan gabus dan tenggiri termahal harganya karena ikan tersebut disukai oleh masyarakat atau permintaannya tinggi demikian pula sebaliknya untuk ikan yang rendah harganya karena jenis ikan tersebut kurang disukai masyarakat. Berdasarkan hasil penelitian, jenis ikan yang paling banyak dibudidayakan di kolam air tawar di Kalimantan Selatan adalah jenis ikan patin, mas, nila, dan bawal. Hasil usaha tersebut terus meningkat setiap tahunnya, demikian juga dengan harga ikan di tingkat konsumen terus naik dari tahun ke tahun. Harga ikan di tingkat produsen dapat berubah seiring dengan musim booming ikan dan tidak. Untuk ikan patin, harga pada saat tidak booming dapat mencapai Rp 20.000 per kilogram ikan ditingkat produsen sedangkan pada saat booming (produksi melimpah) turun menjadi Rp 15.000 per kilogram ikan. Maka jika diambil harga rata-rata per tahun dapat berkisar antara Rp 17.500 per kilogram. Demikian juga dengan ikan lainnya seperti nila, mas dan bawal. Sebagai contoh dapat kita lihat perbandingan harga rata-rata ikan hasil budidaya air tawar di tingkat produsen dan konsumen di Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan pada tabel 6.

Tabel 6. Harga Rata-rata Ikan Budidaya Kolam Air Tawar di Tingkat Produsen
dan Konsumen di Kabupaten Banjar tahun 2007-2008.
No. Jenis ikan Harga produsen
(Rp/kg) Harga konsumen
(Rp/kg)
1. Patin 17.500 27.500
2. Nila 17.500 24.000
3. Mas 17.500 24.000
4. Bawal 18.000 24.000
Rata-rata 17.625 24.875
Sumber: Data Primer yang diolah

Tabel 6 menjelaskan bahwa harga rata-rata ikan patin, nila, mas, dan bawal dan tidak jauh berbeda yaitu rata-rata Rp 17.625/kg di tingkat produsen dan Rp 24.875/kg di tingkat konsumen akhir/pasar. Ikan-ikan tersebut harga di produsen berkisar antara Rp 15.000 - Rp 20.000 dan Ikan-ikan tersebut sebagian besar dijual ke wilayah Banjarmasin, Kalimantan Tengah, disusul ke daerah Hulu Sungai, Tanah Bumbu dan lokal/wilayah Kabupaten Banjar. Wilayah budidaya meliputi desa Mali-mali,Cindai Alus, dan Sungai Sipai, dan Waduk Riam Kanan. Prospek pasar domestik/lokal ikan budidaya air tawar ini sangat menjanjikan. Disaat lesunya produksi ikan tangkapan dilaut dan perairan umum hasil budidaya kolam ini dapat memenuhi permintaan pasar, baik di daerah setempat, antar provinsi dan antar pulau. Bahkan sekarang sedang dilakukan penjajakan ekspor ke luar negeri seperti Singapore, Eropa, Amerika. Sebagai contoh di Kabupaten Banjar, telah terjadi perputaran uang penjualan ikan hasil budidaya kolam yang akan membuat kita pasti tersentak dan mungkin tidak percaya tapi inilah faktanya yaitu rata-rata mencapai Rp 500 juta lebih per hari. Hasil penelitian saya menunjukkan bahwa telah terjadi perputaran uang di Kabupaten Banjar sebesar Rp 543.000.000 per harinya hanya untuk penjualan ikan budidaya patin, nila, mas, dan bawal air tawar, belum termasuk jenis lainnya seperti lele dan belut. Hasil penelitian dan wawancara langsung dengan petani kolam serta informasi dari Diskanlut setempat bahwa terjadi penjualan dalam jumlah besar 4 macam ikan hasil budidaya seperti ikan patin sebanyak kurang lebih 20 ton per hari, dengan harga rata-rata Rp 17.500/kg, berarti hasil penjualan mencapai Rp 350. 000.000 per hari, ikan nila dan mas masing-masing sebesar 5 ton per hari, dengan harga penjualan di tingkat produsen rata-rata Rp 17.500/kg berarti terjadi penjualan kedua jenis ikan sebesar Rp 175.000.000 per hari. Belum lagi ditambah hasil penjualan ikan bawal air tawar yang meskipun sedikit tetapi kontinyu sebesar rata-rata 1 ton per hari dengan harga jual rata-rata Rp 18.000/kg. Berarti terjadi penjualan sebesar Rp 18.000.000 per hari. Total penjualan ikan di bidang budidaya kolam saja dapat mencapai 30-an ton per hari dengan nilai yang sangat besar yaitu Rp 543.000.000 per hari. Belum lagi terhitung hasil produksi ikan lele, dan belut meskipun belum berkembang pesat sebanyak produksi ikan patin, nila dan mas serta bawal namun sudah mulai diusahakan. Hal ini membuktikan bahwa sektor perikanan dapat berperan dalam mensejahterakan masyarakat dan pembangunan ekonomi. Adanya budidaya belut dan lele juga sangat prospektif untuk dapat terus dikembangkan karena sebenarnya pembelinya sudah ada yaitu beberapa negara seperti Jepang. Harga belut dapat mencapai Rp 30.000/kg atau bahkan lebih dan sebagian masyarakat mengolahnya dalam bentuk abon sedangkan bibitnya didatangkan dari Bogor. Jika kita dapat melakukan budidaya belut besar-besaran maka sangat prospek bagi pasar komoditas perikanan Kalimantan Selatan untuk menambah volume dan jenis ikan ekspor dan antar pulau. Sudah saatnya kita menambah ekspor dengan melirik dan menggalakkan pasar ikan air tawar ini, karena negara-negara lainnya seperti Thailand, Philipina sudah melakukan ekspor ikan budidaya air tawar ini sejak beberapa tahun terakhir. Kondisi ini juga penting untuk menutupi kekurangan ikan pada saat tidak musim atau pada saat hasil tangkapan di laut berkurang.
Menurut informasi Diskanlut Kabupaten Banjar, pada tahun 2009 ini akan terjadi booming ikan hasil budidaya kolam air tawar, yang disebabkan gairah masyarakat mengusahakan budidaya, adanya asosiasi perikanan, sudah adanya koperasi perikanan, dan bahkan adanya Himpunan Pedagang Ikan di tahun 2009 ini. Maka, untuk mencegah anjloknya harga ikan kita harus melakukan strategi pasar, selain menambah volume penjualan pada pasar yang sudah ada, juga mencari pangsa pasar/peluang pasar baru dan berusaha untuk dapat mengekspor secara intensif serta meningkatkan hasil teknologi pengolahan. Hal yang menggembirakan adalah adanya usaha kerjasama yang telah dilakukan antara pemerintah Kabupaten Banjar dan Departemen Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia untuk program minapolitan di Kabupaten Banjar dan penjajakan ekspor hasil perikanan kita ke luar negeri. Mudah-mudahan hal ini dapat terealisasi.
Wawancara dengan Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Banjar pada tanggal 10 Januari 2009, bahwa sudah pernah dilakukan studi banding ke Vietnam untuk budidaya perikanan air tawar agar produksi dan kerjasama ekspor perikanan Kalimantan Selatan meningkat. Bayangkan Vietnam mampu menghasilkan sebesar 2,4 juta ton ikan budidaya per tahun (dalam bentuk pillet) yang menyebabkan mereka mampu memonopoli pasar ikan dunia ke Eropa, dan Amerika Serikat. Apalagi sekarang ini telah terjadi perubahan pola konsumsi dari daging yang berwarna merah ke daging yang berwarna putih. Akibatnya ikan menjadi satu-satunya sasaran masyarakat dunia. Jika kita bercermin pada kasus diatas, maka berdasarkan potensi yang dimiliki Kabupaten Banjar saja di Kalimantan Selatan dapat menjadi salah satu pasar ikan yang patut diperhitungkan dunia.
Seandainya kita mencoba segera berproduksi sebanyak 10% saja dari produksi Vietnam, maka hasilnya berkisar 240.000 ton per tahun (dalam bentuk pillet) yang rendemennya 40%. Jika kita produksi dalam bentuk hidup berarti mencapai 336.000 ton per tahun atau dengan kata lain dapat memproduksi sebanyak kurang lebih 28.000 ton per hari. Nah, hal ini akan dapat kita wujudkan dengan melaksanakan minapolitan (budidaya ikan di kolam secara besar-besaran) yang rencananya segera terealisasi sebesar 2.400 Ha. Jika 1 Ha saja dapat berproduksi 300 ton, maka dapat kita hitung berapa hasil produksi kita, yaitu mencapai 720.000 ton per tahun atau 60.000 ton per hari. Sedangkan Singapore, Eropa, Turki dan Amerika Serikat adalah pangsa pasar yang sudah siap membelinya berapapun jumlah yang tersedia. Oleh sebab itu kita perlu punya keinginan kuat untuk mensukseskan program tersebut, didukung oleh sumberdaya dan kondisi lahan yang meyakinkan untuk melaksanakan minapolitan. Telah dibentuk ketua minapolitan se-Indonesia yang letaknya di Kabupaten Banjar Provinsi Kalimantan Selatan. Jadi, meskipun produksi budidaya air tawar sangat tinggi yang melebihi kebutuhan lokal, namun kita masih terus menggalakkan budidaya air tawar untuk memenuhi kebutuhan pasar antar provinsi, antar pulau, dan ekspor ikan air tawar yang saat ini sudah dilirik oleh negara tetangga dan dunia.

Hadirin yang saya hormati...
Saya sangat tertarik dengan rencana minapolitan beserta pabrik es dan pabrik pakannya yang berstandar ekspor dan rencana ekspor perikanan air tawar kita ke luar negeri. Sehingga saya punya pendapat yang sama dengan pemerintah dan sangat mendukung dengan adanya keinginan dan tekad yang kuat untuk terus meningkatkan dan mengembangkan sektor perikanan dan kelautan ini ke depan lebih maju khususnya di Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan. Sebab, jika kita dapat membuktikan keberhasilan usaha ini berarti pendapatan asli daerah yang sesungguhnya adalah pada sektor perikanan yang tidak menguras dan merusak sumberdaya alam kita. Contoh lain yang menarik adalah adanya keinginan melanjutkan program penebaran benih ikan unggul yang lebih intensif oleh Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten dan Provinsi Kalimantan Selatan di Waduk Riam Kanan. Program ini penting bagi kelestarian sumberdaya perairan di waduk dan dalam jangka waktu tertentu dapat diambil hasilnya tanpa mencemari dan mengganggu perairan. Berarti satu lagi potensi perairan yang dapat dimanfaatkan optimal untuk meningkatkan perikanan kita.

Hadirin yang saya hormati................
Menurut pendapat saya, untuk perikanan laut, sebenarnya yang terpenting adalah bagaimana kita dapat mempunyai kapal penangkap ikan yang berukuran besar agar dapat menjangkau ke tengah laut sehingga hasil dan mutu ikan meningkat dan berkualitas ekspor, karena hasil tangkapan ikan yang diperoleh besar-besar. Ikan dan udang yang ditangkap semakin ke tengah laut otomatis semakin besar karena sesuai dengan dalamnya dan luasnya perairan tempat hidup ikan. Harga ikan dan udang berkualitas tentu akan tinggi untuk pasar diekspor. Oleh sebab itu, hal yang paling utama adalah alat penangkap dan kapal penangkap ikan. Selama ini, sebagian besar nelayan perikanan laut hanya menggunakan kapal-kapal yang berukuran kecil, apalagi nelayan tradisional kita, mereka hanya mengandalkan kapal kecil yang hanya mempunyai jelajah di sekitar pantai saja. Alangkah baiknya jika kita dapat melakukan kerjasama dengan pihak pemodal untuk bekerja sama dengan nelayan dalam pengadaan kapal penangkap ikan ini dan dukungan penuh dari pemerintah.
Dalam sistem penjualan ikan di laut, yang sering terjadi terutama dari segi penangkapan dan sistem penjualan adalah penjualan ikan di tengah laut oleh nelayan ke pedagang pengumpul yang didukung oleh hasil tangkapan nelayan yang sedikit/skala kecil, sehingga cendrung untuk dikumpulkan terlebih dahulu. Hal tersebut dapat menurunkan harga ikan di tingkat nelayan atau dengan kata lain harga ikan dapat ditekan oleh pedagang. Hasil tangkapan nelayan yang sedikit tersebut disebabkan karena kurangnya motorisasi atau kapal nelayan yang kecil sehingga tidak dapat menjangkau ke wilayah yang lebih jauh. Demikian juga dengan sarana dan prasarana lainnya yang mendukung masih sangat kurang (seperti pabrik es, sarana angkutan, kondisi jalan, motorisasi). Koperasi perikanan di beberapa lokasi tidak berfungsi seperti di Tabanio Tanah Laut, dan bahkan di beberapa wilayah penangkapan lainnya di sekitarnya belum pernah memiliki koperasi. Padahal koperasi perikanan dapat meningkatkan harga di nelayan. Demikian juga dengan kurangnya kredit perikanan oleh perbankan akibatnya akan sulit berkembang, hal ini disebabkan para bankir kurang memahami perlunya pembangunan di sektor perikanan dan mereka menganggap resiko perikanan lebih tinggi dan sulit diperhitungkan. Oleh sebab itu, maka perlu adanya penjelasan dari pihak terkait yang dapat meyakinkan dan membuktikan kepada mereka bahwa sektor perikanan dapat diandalkan. Apalagi jika kita dapat mengatasi masalah koperasi dan kredit perbankan tersebut dengan cara mendirikan bank tersendiri berupa bank perikanan yang diberi tugas khusus melayani sektor perikanan dan menyalurkan kredit perikanan. Namun, bank khusus perikanan tersebut dapat dilakukan jika kondisi sektor perikanan dapat dibenahi secara simultan. TPI (tempat pendaratan ikan) yang ideal adalah yang letaknya strategis dan fungsional. Jika kita dapat melakukan hal tersebut maka nelayan akan menjual ikannya ke TPI. Maka, sektor ekonomi perikanan dapat tumbuh dan berkembang baik di daerah tersebut, harga ikan dapat terkontrol dan sistem informasi harga otomatis akan lebih baik. Juga, kolusi dapat dikurangi atau dihindari. Hal ini dapat terjadi jika pemerintah daerah dapat menjadi fasilitator dan kontrol. Jika demikian, maka harga nelayan akan dapat bersaing dan bargaining position nelayan menjadi kuat.
Jika kita lihat dari sisi perikanan tangkap yang mempunyai kecenderungan menurun akibat over eksploitasi dapat menjadi bahan pemikiran untuk mengatasinya. Perikanan keramba, kolam, tambak, sawah, jaring apung, net tancap di Kalimantan Selatan berdasarkan data sampai tahun 2007 masih sangat menjanjikan, karena ada kenaikan. Jumlah produksi tahun 2006 sebesar 12.595,9 ton naik menjadi 16.505,6 ton naik sekitar 30%. Bahkan terus menaik sejak tahun 1998 atau 10 tahun terakhir dari 3.847,8 ton tahun 1998. Berbeda dengan perikanan tangkap dilaut yang menurun. Oleh sebab itu, maka perlu kita kaji kembali sistem pengembangan perikanan dan kebijakan yang optimum di Kalimantan Selatan khususnya, secara nasional pada umumnya mulai dari tingkat produksi sampai dengan sistem pemasarannya.
Ikan sudah menjadi komoditi global, karena meningkatnya sarana telekomunikasi dan pengangkutan antar negara, dan pasar internasional masih sangat luas dan masih sangat terbuka, asalkan mutu dan waktu penyerahan komoditi konsisten. Apalagi untuk produk udang dan tuna, Indonesia sudah mengenal dan mempunyai mitra pengimpor yang ditunjang oleh perbaikan mutu.
Strategi yang paling tepat untuk menghadapi persaingan dan menguasai pasar, dapat dilakukan dengan cara: 1) menguasai dan menyediakan sumber bahan baku yang selalu cukup bagi perusahaan Indonesia, 2) mendirikan perwakilan eksportir di pusat-pusat pemasaran luar negeri (pasaran Jepang, Amerika, Eropa, Asean), 3) mempererat hubungan dengan perwakilan-perwakilan pembeli atau importir Indonesia. Jika hal tersebut teratasi dengan baik, maka product knowledge, market access dapat teratasi, tinggal bagaimana penguasaan dan penyediaan sumber bahan baku yang kontinyu.

Hadirin yang saya hormati...
Jika dikatakan bahwa usaha perikanan menjanjikan, kita dapat melihatnya dari faktor-faktor fundamental dan kondisi perusahaan serta faktor yang mempengaruhinya. Prospek pemasaran, ditunjukkan oleh perkiraan FAO hingga tahun 2010, dunia masih akan kekurangan pasok ikan sebesar 2 ton/tahun. Kecenderungannya dari impor dunia yang terus meningkat dari US $ 51,1 milyar tahun 1995 menjadi US $ 54,9 milyar tahun 1998, terus meningkat sepanjang tahun hingga tahun 2007 mencapai US $ 98,6 milyar. Padahal Indonesia bertendensi sebagai pemasok pasar dunia yang terus meningkat. Menurut Sanjay Dhar, 2008 bahwa kita akan menghadapi kondisi ekonomi yang sangat berat tetapi para pebisnis dibelahan dunia manapun tidak boleh memiliki pandangan yang sempit, sebab dalam jangka panjang pertumbuhan ekonomi akan menjadi sangat baik. Menurutnya masih banyak konsumen terbaik dan penawaran yang menguntungkan, hingga pasar masih terbuka luas, jangan berhenti berekspansi dan jangan pernah lupa pasar domestik, karena bisnis lokal memiliki keunggulan terhadap potensi lokal. Value added (nilai tambah) dari sisi produk sangat efektif untuk menjajaki pasar internasional. Dikatakannya pula, bahwa jika pelaku bisnis Indonesia dapat menjalani tahap demi tahap tersebut dengan baik, niscaya iklim bisnis negara ini akan sejajar dengan negara-negara pebisnis besar seperti Amerika Serikat dan China.
Di sisi lain, pasar domestik Indonesia yang cukup kuat, dari produksi 4,6 juta ton, yang dipasarkan di dalam negeri adalah 4 juta ton dan ini sebagian besar dipasok oleh nelayan tradisional (one day fishing) yang memiliki keistimewaan struktur landing yang tersebar dan pasar yang terpencar sehingga secara ekonomi sulit disaingi oleh usaha-usaha besar. Dengan konsumsi perkapita 19,04 kg/tahun, ditargetkan meningkat menjadi 22 kg/tahun saja, pasar domestik masih memerlukan tambahan pasok lebih dari 0,5 juta ton/tahun. Hal ini berarti pasar domestik juga masih sangat menjanjikan. Apalagi untuk masyarakat Kalimantan Selatan yang konsumsi ikannya jauh diatas standar nasional yang mencapai 36,1 kg/kapita/tahun dengan jumlah penduduknya sebesar 3.396.680 jiwa pada tahun 2007. Maka dapat kita perkirakan total konsumsi ikan dapat terserap sebesar 122.620,15 ton/tahun bandingkan dengan total produksi kita yang sebesar 174.815,70 ton/tahun pada 2007. Maka terlihat begitu besar jumlah konsumsi kita saja di Kalimantan Selatan. Sedangkan permintaan antar provinsi, antar pulau dan luar negeri masih lebih tinggi lagi. Hal ini menunjukkan betapa prospeknya sektor perikanan untuk terus dikembangkan produksinya dengan memperhatikan mutu dan kuntinyuitas agar dapat bersaing di pasar dunia.
Berdasarkan jumlah produksi ikan Kalimantan Selatan pada tahun 2007 sebesar 174.815,7 ton, dengan volume ekspor yang hanya sebesar 2.893,2 ton, dengan nilai US $ 13.131.078,17 dengan hanya tersisa 2 jenis saja yang di ekspor (udang dan sebagian kecil labi-labi), padahal pada tahun 2006 masih 6 jenis komoditi yang diekspor (udang beku, bulus/labi-labi hidup, kura-kura hidup, sotong beku, rumput laut, cumi-cumi). Hal ini mengindikasikan bahwa ekspor kita terus merosot baik dari segi jumlah, maupun jenis komoditi yang diekspor. di sisi lain, tingginya produksi ikan air tawar hasil budidaya (kolam, keramba, jaring apung) dapat sebagai solusi untuk terus meningkatkan volume ekspor untuk ikan air tawar karena ternyata sekarang permintaan dunia sudah sangat tinggi. Pasar domestik yang sangat menjanjikan dengan harga yang tinggi/harga yang lebih baik di tingkat produsen juga mendorong masyarakat untuk terus mengusahakan ikan hasil budidaya air tawar ini. Ditambah lagi dengan sudah meningkatnya pengetahuan masyarakat akan nilai gizi ikan, contohnya ikan segar yang direbus dapat mencegah stroke dan kerusakan otak. Meskipun demikian, harga yang tinggi di tingkat konsumen sebenarnya masih dapat ditekan yaitu dengan cara mengefisiensikan sistem pemasarannya yang masih belum efisien dan distribusi ikan yang masih belum tersebar merata di wilayah pelosok Kalimantan Selatan, sehingga mendorong masyarakt kita untuk makan ikan lebih banyak lagi untuk kecerdasan otaknya. Jika kita lihat perkembangan usaha budidaya air tawar yang semakin banyak, maka strategi pemasarannya harus segera kita lakukan, antara lain dengan cara mencari pangsa pasar baru baik antar provinsi, antar pulau, antar negara.
Berdasarkan sumberdaya manusia, Indonesia memiliki tenaga kerja yang cukup besar, walaupun produktivitasnya rendah dan dengan upah yang cukup rendah. Sebenarnya hal ini dapat di atasi dengan program pelatihan, penyuluhan dan pendidikan.
Dari sisi teknologi, industri perikanan Indonesia sebagian menggunakan teknologi sederhana dan sebagian menggunakan teknologi maju. Namun demikian, selama beberapa tahun terakhir pemerintah telah banyak mengintroduksi berbagai teknologi di hampir semua sektor usaha perikanan. Dukungan kebijakan pemerintah yang meletakkan ikan sebagai komoditas unggulan sangat mendorong sektor industri. Pengurangan pajak, penambahan kredit perbankan, dan kemudahan perijinan, tarif bea masuk, maupun penentuan skala prioritas pembangunan akan berdampak langsung pada usaha perikanan.
Berdasarkan keterangan di atas, maka usaha perikanan mampu menghasilkan keuntungan besar jika direncanakan dan dikelola dengan baik. Faktor menguntungkan yang sangat mendukung adalah potensi yang besar dan ketersediaan sumberdaya ikan laut di tempat-tempat yang berdekatan dengan basis industri sehingga biaya dapat diminimumkan. Selain itu faktor tenaga kerja yang murah dan tersedia banyak merupakan faktor pesaing yang kuat. Prospek ekspor perikanan Indonesia sangat cerah jika kita mampu menembus pasar Uni Eropa. Hal ini di dukung kuat oleh adanya krisis sumberdaya perikanan lautnya yang sudah menipis tajam atau dapat dikatakan sudah ”over eksploitasi” sebesar ± 60 % dan bahkan 70 % sudah dinyatakan” collapsed”. Uni Eropa mau tidak mau terpaksa harus meningkatkan impor perikanannya sebesar ± 40 % dari total kebutuhan ikannya, yang diperkirakan akan terus meningkat seiring dengan peningkatan laju pertumbuhan penduduk, tingkat pendapatan, serta pemekaran keanggotaan Uni Eropa dari 15 menjadi 25 negara (Putro, S., 2003). Berdasarkan data ekspor hasil perikanan Indonesia ke Uni Eropa pangsa pasarnya baru mencapai ± 1,4 % atau ± 7% dari volume total ekspor hasil perikanan Indonesia. Angka ini dinilai sangat kecil dibandingkan dengan ekspor ke negara lainnya. Hal ini dapat merupakan informasi dan sebagai bahan pemikiran dalam mengembangkan ekspor ke Uni Eropa pada masa yang akan datang. Kerjasama Kalimantan Selatan dalam rencana ekspor hasil perikanan ke UE tentu akan sangat cemerlang dengan masih diterimanya produk kita di Belgia. Ekspor udang Kalimantan Selatan ke Belgia pada tahun 2008 tetap berjalan sebesar 136 ton dengan nilai 397.474,85 US$. Meskipun pada tahun 2007 sempat terhenti akibat adanya sanksi. Menurut harian Jakarta Post 2008, Uni Eropa menilai Indonesia berhasil memperbaiki sistem manajemen mutu hasil perikanan pada 2 tahun terakhir ini. Hal ini disebabkan adanya penurunan drastis kasus RASFF (Rapid Alert System for Food and Feed) yang merupakan kontrol sistem UE. Penurunan kasus RASFF ini karena adanya perbaikan sistem regulasi dan penerapannya, penguatan kelembagaan dan sumberdaya manusia. Data DKP RI menyebutkan terdapat 49 kasus RASFF pada tahun 2005, 34 kasus pada tahun 2006, 17 kasus pada tahun 2007, dan sampai bulan April 2008 hanya terjadi 2 kasus RASFF. Jadi, penilaian komisi Eropa terhadap ekspor perikanan kita merupakan berita baik dan patut disyukuri, namun juga menjadi tantangan bagi industri perikanan untuk mengendalikan mutu ikan ekspor.
Pemberdayaan (empowerment) merupakan keberpihakan kepada yang lemah agar menjadi kuat dan mandiri. Unsur masyarakat perikanan yang relatif paling tidak berdaya adalah nelayan dan petani ikan yang memiliki kelemahan secara sosial, ekonomis, maupun politis sehingga mudah untuk ditekan oleh pihak lain. Kegiatan pemberdayaan masyarakat nelayan dan petani ikan merupakan tanggung jawab seluruh stakeholder yang bergerak di sektor perikanan, tidak terkecuali organisasi masyarakat perikanan yang peduli terhadap harkat dan martabat masyarakat nelayan dan petani ikan.
Koperasi perikanan sangat diperlukan nelayan. Selama ini koperasi nelayan di Indonesia sangat sedikit bahkan di wilayah Kalimantan Selatan seperti di daerah perikanan Aluh-aluh Kabupaten Banjar tidak terdapat koperasi perikanan, juga di Desa Tabanio, koperasi perikanan yang pernah ada, sudah lama macet, padahal koperasi perikanan sangat penting untuk pengadaan sarana/perbekalan/kebutuhan rumah tangga nelayan misalnya dengan kios KUD, perkreditan untuk nelayan, pemasaran/pengolahan lokal, pengelolaan TPI, dan pembinaan anggota/nelayan/petani ikan serta menjaga stabilitas harga ikan. Jika dilakukan pengelolaan TPI (tempat pelelangan ikan) yang baik maka masyarakat nelayan dapat menjual ikannya melalui koperasi dan adanya retribusi yang harus disetorkan sebagai Pendapatan Asli Daerah (PAD), dari pengelolaan TPI akan diperoleh manfaat yang besar bagi gerakan koperasi perikanan untuk memenuhi dan melayani kebutuhan nelayan anggotanya. Selama ini koperasi perikanan dan masyarakat kurang mendapat perhatian dari pemerintah dibandingkan dengan koperasi lainnya khususnya di bidang permodalan. Masalah ini sudah lama berlangsung karena resiko perikanan yang dianggap lebih tinggi daripada sektor lainnya. Harga ikan di tingkat nelayan akan dapat lebih tinggi jika koperasi perikanannya aktif dan berjalan dengan optimal. Demikian juga dengan saluran pemasaran ikan akan menjadi lebih pendek, sehingga harga ikan di tingkat eceran dapat ditekan, terutama untuk perikanan laut yang letaknya lebih jauh dari pasar.
Hal yang juga paling menonjol dalam pemasaran ikan di Kalimantan Selatan adanya pasar ikan terapung yang ada di Kuin Banjarmasin, dan di Lok Baintan Martapura, yang mempunyai ciri khas yang tidak terdapat di daerah lain. Pasar terapung di Kuin Banjarmasin tersebut terdapat pasar ikan khusus yang illegal karena dekat dengan tangki-tangki pertamina dan berbahaya bagi pedagang. Nah, jika dapat dialokasikan dengan lebih khusus dan legal maka akan lebih baik bagi pedagang dan pembeli ikan. Jumlah pedagang ikan segar di pasar terapung kuin ini berkisar antara 200 orang pedagang ikan. Hampir semua jenis ikan diperdagangkan di pasar terapung tersebut. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui share pedagang ikan cukup tinggi rata-rata 75% karena setiap ikan yang dijual pedagang paling sedikit untung Rp 5.000 per kilogram. Sebagian besar para pedagang pengecer yang membeli ikan berasal dari pasar tradisional Banjarmasin, rumah makan, restoran dan hotel-hotel, karena jika sudah langganan harganya jauh lebih miring. Jika kita benahi dan gairahkan lagi pasar terapung ini maka akan dapat berfungsi lebih optimal untuk pariwisata dan dapat mendatangkan lebih banyak wisatawan. Untuk pasar terapung di Lok Baintan Kabupaten Banjar, saya melihat perlu dibenahi dan ditingkatkan lagi fungsinya supaya tetap lestari dan sebagai tempat wisata.

Hadirin yang saya hormati...
Berdasarkan pentingnya membangun sektor kelautan dan perikanan, sebagai acuan terhadap negara-negara lainnya yang maju dan makmur karena sektor kelautan dan perikanannya memberikan motivasi dan semangat yang tinggi untuk dapat mewujudkan kinerja sektor kelautan dan perikanan yang lebih baik. Sudah sepatutnya bangsa Indonesia optimis akan peran sektor tersebut dalam pembangunan ekonomi nasional di masa kini dan masa yang akan datang.
Upaya menjadikan sektor kelautan dan perikanan sebagai prime mover (leading sector) pembangunan ekonomi sudah sepatutnya dilakukan, karena adanya saling keterkaitan kedepan dan kebelakang (backward and forward linkage) yang kuat. Hal tersebut dapat dipercepat dengan pendekatan ilmiah, dukungan lembaga riset dan perguruan tinggi, serta organisasi masyarakat agar sektor perikanan tangguh secara riil.
Semuanya terwujud dengan jalinan kerjasama yang erat antar berbagai instansi pemerintah, untuk mencapai tujuan masyarakat yang lebih sejahtera, sesuai pendapat Putro,S., 2001 bahwa sektor perikanan memang mempunyai potensi yang sangat besar untuk dapat dikembangkan sebagai salah satu pilar bagi pemulihan perekonomian nasional, baik sumbangannya terhadap pendapatan devisa maupun PDB (Product Domestic Brutto). Selain itu, sektor perikanan memegang peranan penting baik dalam perdagangan domestik atau internasional. Namun, sumbangan sektor perikanan bagi perekonomian nasional masih sangat kecil dibandingkan dengan potensi yang tersedia. Oleh karena itu, diperlukan riset pemasaran yang lebih luas dan mendalam bagi program pemulihan ekonomi nasional.


















Hadirin yang saya hormati........

Kesimpulan dari pidato pengukuhan jabatan guru besar ini adalah:
1. Telah terjadi penurunan produksi perikanan, volume, nilai dan jumlah jenis ikan ekspor Kalimantan Selatan dari tahun ke tahun, sementara permintaan ikan domestik dan dunia terus meningkat sepanjang tahun. Berdasarkan FAO sampai tahun 2010 dunia masih akan kekurangan pasok ikan sebesar 2 ton per tahun. Turunnya produksi perikanan laut karena sebagian besar kapal penangkap ikan nelayan kita yang kecil sehingga tidak dapat menjangkau lebih jauh dan rentan dengan kondisi alam/musim, sedangkan populasi ikan di daerah sekitar pantai sudah menipis karena semua nelayan menangkap disana.
2. Prospek pasar lokal, antar pulau dan ekspor perikanan Kalimantan Selatan memiliki peluang untuk meningkat secara signifikan melalui peningkatan produksi budidaya perikanan air tawar seiring dengan meningkatnya konsumsi masyarakat dalam negeri dan dunia. Rencana memperluas usaha budidaya air tawar secara besar-besaran (minapolitan) di Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan beserta pabrik pakannya yang berstandar ekspor sebagai terobosan baru untuk memenuhi semua permintaan pasar tersebut. Jika hal tersebut dapat segera diwujudkan maka akan menyerap tenaga kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sudah saatnya kita menangkap peluang pasar dunia untuk ekspor jenis ikan air tawar ini sebagai keunggulan daerah dengan daya saing yang tinggi seperti yang dilakukan oleh negara tetangga, Vietnam. Perputaran uang untuk penjualan ikan air tawar (patin, mas, nila, bawal) di Kabupaten Banjar mencapai rata-rata Rp. 500 juta lebih per hari adalah peluang emas tak terbantahkan bahwa sektor perikanan dapat diandalkan sebagai sumber pertumbuhan ekonomi.
3. Strategi ekspor perikanan laut dapat dilakukan dengan cara menambah jumlah kapal yang mempunyai daya jelajah lebih besar dan meningkatkan mutu produksi. Diperlukan adanya kerjasama dengan pemodal untuk pengadaan kapal besar baik swasta maupun pemerintah.


Sebelum menutup pidato pengukuhan jabatan guru besar ini, perkenankanlah sekali lagi saya mengucapkan terimakasih kepada Rektor Universitas Lambung Mangkurat dan segenap jajarannya, kepada semua anggota senat Universitas Lambung Mangkurat, para dosen, para hadirin sekalian atas kesediaannya mendengarkan isi pidato ini. Semoga Bapak dan Ibu serta saudara sekalian mendapatkan ganjaran pahala dan Rahmat Allah S.W.T. Amiin...
Tak lupa pula, saya ucapkan terimakasih kepada kedua orang tua, guru-guru dari Taman kanak-kanak sampai SLTA di Barabai Hulu Sungai Tengah, dan di perguruan tinggi dari jenjang S1, S2, dan S3 di Banjarbaru dan Yogyakarta , seluruh keluarga, para dosen yang mendorong saya untuk terus meningkatkan pendidikan dan ilmu pengetahuan, teman-teman semuanya yang memberikan semangat dan dukungan, baik langsung maupun tidak langsung.
Terimakasih yang sangat dalam dan tak terhingga kepada suami saya Prof.DR.Ir. H.Idiannor Mahyudin,M.Si, anak-anak saya Rizqi Puteri Mahyudin, S.Si dan Suami Ridha Fadillah S.Pd, M.Ed, Roja Putera Mahyudin, Ratu Cindya Mahyudin, dan si Bungsu Sultan Yunior Mahyudin yang selalu setia mendampingi, menyemangati, mendukung dan menghibur baik pada saat suka ataupun duka. Mudah-mudahan kita semuanya selalu mendapatkan Rahmat dan Lindungan dari Allah S.W.T. Amin 3x....
Akhir kata, perkenankanlah saya mengucapkan mohon maaf yang sebesar-besarnya atas segala kekhilafan dan kekurangan saya dalam penyampaian pidato ini. Terima kasih, Wabillaahitaufik Walhidayah, Wassalam Mu’alaikum Warahmatullaahi Wabarkaatuh.













BAHAN ACUAN
Departemen Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia, tahun 2002

Departemen Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia, tahun 2004

Departemen Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia, tahun 2006

Departemen Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia, tahun 2007

Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Kalimantan Selatan, tahun 2006

Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Kalimantan Selatan, tahun 2007

Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Banjar, tahun 2006

Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Banjar, tahun 2007

Fuad Cholik, dkk., 2003. ”Perikanan Sebagai Sektor Andalan Nasional” Edisi ke
II. Departemen Kelautan dan Perikanan dan ISPIKANI, tahun 2003

Jakarta Post. Harian Ibukota. Jakarta. Tahun 2009

Laporan Tahunan Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Kalimantan
Selatan, tahun 2007

Mahreda, E.S. 1996 ”Analisis Permintaan Ekspor Udang Indonesia”. Tesis
Universitas Gadjah Mada UGM Yogyakarta.

Mahreda, E.S.2002 ”Efisiensi Pemasaran Ikan Laut Segar di Kalimantan
Selatan”. Disertasi. Universitas Gadjah Mada UGM Yogyakarta.

Mahreda E.S., 2007. Analisis Usaha Budidaya Kolam Air Tawar di Kalimantan
Selatan.

Mahreda, E.S., 2007. Analisis Harga Ikan budidaya kolam air tawar di
Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan.

Mahreda E.S, 2008. Analisis Permintaan dan Penawaran Ikan Antar Pulau
Kalimantan Selatan.

Mahreda, E.S., 2008. Analisis efisiensi pemasaran ikan budidaya air tawar di
Kabupaten Banjar , Kalimantan Selatan.

Putro,S., 2003. ”Penahanan dan Penolakan Ekspor Hasil Perikanan di Uni
Eropa”. Perikanan Sebagai Sektor Andalan Nasional. Departemen
Kelautan dan Perikanan RI, 2003.

Putro,S., 2001. ”Flatform Riset Pemasaran”. Pusat Riset Pengolahan Produk
dan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan. Badan Riset Kelautan dan
Perikanan, Departemen Kelautan dan Perikanan RI, 2001

Susenas, 2000. Survei Sosial Ekonomi Nasional. Survei Perikanan.
Jakarta.2000

Sanjay Dhar, 2008. Workshop series Strategic Marketing Management,
Jakarta.2008





























BIO DATA

Nama : Prof. DR. Ir.Hj. Emmy Sri Mahreda, MP
Tempat/Tanggal Lahir : Barabai, 29 Agustus 1964
Jenis Kelamin : Perempuan
Pekerjaan : Dosen Sosial Ekonomi Perikanan Fakultas Perikanan UNLAM Banjarbaru
Jabatan Akademik/Nip : Guru Besar
/131884731
Agama : Islam
Alamat Rumah : Jl. Tanjung Rema Darat No. 8 Rt 3 Rw 2 Martapura
Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan
HP. 085651249227; 05119110845, 05117307698
Status Perkawinan : Kawin
Alamat Kantor : Jl A. Yani, Simpang Empat Banjarbaru Kal-Sel KP. 70714
Tilpon/Fax. (0511) 772124
Pengalaman Organisasi


: 1. Anggota Wanita Indonesia Club (WIC), tahun 1990-
sekarang
2. Anggota Pemuda Pancasila, tahun 1984-1993
3. Pemuda Anshor, tahun 1978-1983
4. Dewan Redaksi Journal Ilmiah Fish
Scientiae.Fak.Perikanan Unlam
5. PII (persatuan Insinyur Indonesia) tahun 1989-
sekarang
6. PIII (Persatuan Isteri Insinyur Indonesia), 1986-
sekarang
7.Anggota KAGAMA UGM Yogyakarta tahun 1997-
Sekarang
8. Dewan Konsursium PMB (Program Mitra Bahari)
RC Kalimantan Selatan, 2007 sampai sekarang
9.Tim Ahli Ketahanan Pangan Provinsi Kalimantan
Selatan, 2008 sampai sekarang

Seminar/menyampai
kan makalah dan Kegiatan Ilmiah : 1. AMDAL A tahun 1989, di KPSL UNLAM
2. AMDAL B tahun 1991, di KPSL UNLAM
3. Penilai AMDAL 1992, di KPSL UNLAM
4. Seminar Nasional ”Reorientasi Kebijakan
Pembangunan Pertanian” Fakultas Pertanian UGM
Yogyakarta, 1998.
5. Seminar Nasional Perikanan ”Peluang dan Tantangan
Ekspor Produk Perikanan Indonesia di Pasar
Internasional” di UGM tahun 25-26 Oktober 1999.
6.Seminar Nasional ”Refleksi Kritis Undang-undang
Perikanan” tahun 2000 di UGM Yogyakarta
7. Dialog Nasional Perikanan 2002 “ Illegal Fishing
dalam Perspektif Pemerintah, Pengusaha, dan
Masyarakat, Di UGM 15 April 2002
8. Seminar Nasional ”Lingkungan Pesisir” di Fakultas
Perikanan UNLAM, Juni tahun 2003
9. Pemakalah Seminar Nasional Pembangunan
Perikanan dan Kelautan tahun 2003 di Pendopo
Bupati Banjar Martapura.
10. Seminar Optimalisasi peran sektor kelautan dan
perikanan untuk menunjang pembangunan daerah,
Juli 2003. (Pemakalah Penunjang)
11. Seminar Optimalisasi Peran Sektor Kelautan dan
Perikanan Untuk Menunjang Pembangunan Daerah,
Juli 2003 (Pemakalah)
12.Seminar ”Upaya Pengentasan Kemiskinan Nelayan
Sebagai Pendukung Program Pemberdayaan
Masyarakat Pesisir”,Tahun 2003
13.Strategi Ekspor dan Pasar Domestik Produk
Perikanan,sebagai Sumber Pertumbuhan Ekonomi
dan PAD”, tahun 2004 (Pemakalah)
14.Pelatihan Pengelolaan Perikanan Pesisir
(Banjarbaru) 2006
15. Pelatihan Pengelolaan Pesisir DKP Pusat
(Balikpapan), 2004
16. Konferensi Nasional IV Perikanan (KONAS IV) di
Balikpapan UNMUL ”Memperkuat Desentralisasi
Pengelolaan Sumberdaya Perairan umum, Pesisir
dan Laut yang Berbasis Kemitraan” ,2004
17.Lokakarya Daerah Program Mitra Bahari Regional
Center Kal-Sel, 2006
18. Sosialisasi Perundang-undangan Bagi Masyarakat
Pesisir Kal-Sel, 2006
19. Intensifikasi Kerjasama Internasional dalam
Pengelolaan keanekaragaman hayati di Laut Cina
Selatan dalam upaya Confidence Building Measures
2006
20. Seminar Program Mitra Bahari Kal-Sel dengan Dirjen
Kelautan, pesisir, dan pulau-pulau kecil.DKP pusat ,
2007
21. Pelatihan penulisan artikel ilmiah untuk meningkat
Kan kualitas penelitian, 2007
22. Technical Assistence Metode Penelitian, 2007
23. Pelatihan pengembangan metode evaluasi hasil
Belajar untuk meningkatkan kualitas pembelajaran
2007
24. Seminar Pemberdayaan dan Pembinaan Masyarakat
Pesisir (Tantangan dan Peluang) (Pemakalah) 2008
25. Seminar Nasional Temu Pelaku Jaringan dan
Distribusi Pemasaran Hasil Perikanan Tahun 2008
(pemakalah)
26. Pelatihan Pengelolaan Wilayah Pesisir Terpadu
(ICZPM) pada kegiatan Program Pengembangan
Dan Pengelolaan Terpadu Wilayah Laut, Pesisir dan
Dan Pulau-pulau Kecil, di Banjarbaru. Maret 2008


Pengalaman Penelitian : 1. Analisis Permintaan Ekspor Udang Indonesia, (tesis S2) 1996
2. Analisis Kelayakan Ekonomi Tambak Udang Laut, di Kabupaten Tanah Laut Kalimantan Selatan, 1997
3. Analisis Ekonomi Produksi Perikanan Laut di Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan, tahun 2000
4. Analisis Keuntungan dan Biaya Pemasaran Lembaga Pemasaran Ikan Laut Segar di Kalimantan Selatan, tahun 2001
5. Analisis Linear Programming Transportation Minimize Cost Transshipment model Hasil-hasil Perikanan Kalimantan Selatan, Tahun 2002
6. Analisis Efisiensi Pemasaran Ikan Laut Segar di Kalimantan Selatan , (Disertasi) 2002
7. Sistem Transportasi Ikan Laut Segar di Provinsi Kalimantan Selatan, tahun 2003
8. Margin Pemasaran Ikan di Provinsi Kalimantan Selatan, tahun 2003
9. Analisis Struktur, Perilaku, dan Penampilan Pasar Ikan Laut Segar di Kalimantan Selatan, tahun 2003
10. Manajemen PEMP (Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir) di Kecamatan Aluh-aluh, Kalimantan Selatan, tahun 2003
11. Registrasi Wilayah PEMP (Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat pesisir) di Kecamatan Aluh-aluh, Kalimantan Selatan, tahun 2003
12. Tataniaga Ikan Air tawar di Kabupaten Banjar kalimantan Selatan, tahun 2003
13. Analisis Diskripsi Pemasaran Ikan Laut Segar di Kalimantan Selatan, tahun 2004
14. Sistem Pemasaran dan Model Transshipment Distribusi Ikan Air Tawar d HST Barabai Kalimantan Selatan, tahun 2004
15. Analisis Struktur, Perilaku, dan Penampilan Pasar Udang laut di Kecamatan Aluh-aluh Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan, tahun 2004
16. Pola Pemasaran Ikan Laut Segar di Propinsi Kalimantan Selatan, tahun 2004
17. Analisis Ekspor Udang Kalimantan Selatan, tahun 2004
18. Analisis Pemasaran Ikan Nila di Pasar Antasari Banjarmasin Provinsi Kalimantan Selatan, 2004
19. Saluran Pemasaran dan Sistem Transportasi Ikan Air Tawar Segar di provinsi Kalimantan Selatan, tahun 2004
20. Analisis Masalah Kredit Macet dan Solusi Alternatif Sistem Penyaluran Modal Bergulir Masyarakat Nelayan, tahun 2004 (Hibah Bersaing)
21. Analisis Masalah Kredit Macet Dan Solusi Alternatif Sistem Penyaluran Modal Bergulir Masyarakat Nelayan , 2004 (Hibah Bersaing)
22. Sistem Pemasaran dan Model Transshipment Distribusi Ikan Laut Segar di Kotabaru dan Tanah Laut Kalimantan Selatan , 2004 (Hibah Bersaing)
23. Analisis Ekspor Ikan Kakap (Lates calcalifer) di Kalimantan Selatan, tahun 2005
24. Analisis Peramalan Forecasting Ekspor Ikan Kakap (Lates calcalifer) di Kalimantan Selatan tahun 2004-2013, tahun 2005
25. Prospek Eskpor Ikan Hias Provinsi Kalimantan Selatan, tahun 2005
26. Analisis Investasi Kapal Terhadap Usaha Penangkapan Udang Laut di Kabupaten Tanah Laut Kalimantan Selatan, tahun 2005 (journal terakreditasi)
27. Prospek Pasar Ikan Terapung di Muara Sungai Barito Kalimantan Selatan, 2005
28. Sistem Pemasaran dan Transportasi Ikan Hias di Banjarmasin dan Banjarbaru, Provinsi Kalimantan Selatan, tahun 2005. (Journal Terakreditasi)
29. Partisipasi Tenaga Kerja anak dalam keluarga nelayan di Tanah Laut Kalimantan Selatan, tahun 2006
30. Analisis Masalah Kredit Macet dan Solusi Alternatif Sistem Penyaluran Modal Bergulir Masyarakat Nelayan, tahun 2006 (Journal terakreditasi).
31. Pengaruh Tingkat Pendidikan Dan Jam Kerja Terhadap Status Ekonomi Petani di Kalimantan Selatan, tahun 2006 (Journal terakreditasi)
32. Partisipasi Tenaga Kerja Anak dalam Keluarga Nelayan di Kabupaten Tanah Laut Kalimantan Selatan, tahun 2006 (Journal terakreditasi)
33. Pembinaan Koperasi Nelayan yang Macet di Kabupaten Tanah Laut Kalimantan Selatan, tahun 2006 (Hibah Bersaing)
34. Transportation System and Marketing of Fresh Marine Fish in South Kalimantan, Journal Pengembangan Komunitas dan Pemberdayaan Masyarakat. 2006. ISBN 978-979-8128-62-2
35. Analisis Forecasting Ekspor Ikan Kakap Kalimantan Selatan, 2006. Journal Pengembangan Komunitas dan Pemberdayaan Masyarakat. 2006. ISBN 978-979-8128-62-2
36. Analisis Tingkat Keuntungan Usaha Penangkapan Ikan di Kecamatan Aluh-aluh Kabupaten Banjar Provinsi Kalimantan Selatan, 2007 (Journal terakreditasi)
37. Analisis Sensitivitas Usaha Ikan Mas di Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan, tahun 2007
38. Analisis Finansial dan Ekonomi Ikan Mas di Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan, tahun 2007
39. Analisis Usaha Budidaya Kolam Air Tawar di Kalimantan Selatan, tahun 2007
40. Analisis harga ikan kolam air tawar di Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan, 2007
41. Analisis Permintaan dan Penawaran ikan Antar Pulau Kalimantan Selatan, 2008
42. Analisis Efisiensi Pemasaran Ikan Budidaya Air Tawar di Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan, 2008.
43. Analisis Efisiensi Pemasaran Ikan air sungai di Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan, 2008.


Mengajar (S1 dan S2)








Buku ISBN yang diterbitkan secara nasional.







Membuat Modul dan
Diktat Kuliah
Untuk S1 dan S2














Pengabdian Kepada
Masyarakat/penyuluhan

























Keterangan Keluarga
1. Teori Ekonomi Mikro
2. Teori Ekonomi Makro
3. Ekonometrika
4. Ekonomi Pemasaran Hasil-hasil Perikanan
5. Perdagangan Internasional
6. Ekspor-Impor
7. Pembiayaan Perikanan
8. Matematika I
9. Matematika II
10. Ekonomi Perikanan
11. Ekonomi Regional
12. Bisnis Perikanan


1. Buku Ajar Tataniaga Hasil Perikanan (ISBN 978-979-8128-64-6)
2. Buku Ajar Ekonomi Mikro (ISBN 978-979-8128-67-7)
3. Buku Pembiayaan Perikanan (ISBN 978-979-8128-66-0)
4. Buku Ekspor Impor (ISBN 978-979-8128-64-6)
5. Buku Ajar Pembiayaan Perikanan (Pendekatan Praktis) (ISBN 978-979-8128-71-1)
6. Buku Analisis Pemasaran Perikanan Laut (Kasus di Kalimantan Selatan) (ISBN 978-8128-72-4)


1. Petunjuk Praktikum SPSS Windows. Mata Kuliah
Ekonometrika
2. Tataniaga Hasil Perikanan Jilid 1
3. Tataniaga Hasil Perikanan Jilid 2
4. Ekonomi Mikro. Jilid 1 (pendekatan Praktis)
5. Ekonomi Mikro. Jilid 2
6. Ekonomi Makro. Jilid 1 (Pendekatan Pendapatan Nasional)
7. Ekonomi Makro.Jilid 2
8. Matematika Jilid 1
9. Matematika Jilid 2
10. Ekonometrika Dasar . Jilid 1
11. Ekonometrika. Pendekatan Analisis Regresi.
Jilid 2
12. Ekonometrika. Variabel Dummy. Jilid 3.
13. Ekonometrika. Persamaan Simultan. Jilid 4.
14. Ekspor Impor Hasil Perikanan Jilid 1
15. Ekspor Impor hasil perikanan.Jilid 2
16. Pembiayaan Perikanan. jilid 1
17. Pembiayaan Perikanan . Jilid 2
18. Ekonomi Pertanian dan Perikanan
19. Perdagangan Internasional. Jilid 1
20. Perdagangan Internasional . Jilid 2.

1. Analisis bisnis gurami, Desa pemangkih seberang, 2003
2. Tingkat dan jalur pemasaran ikan air tawar, Desa Tabat, 2004
3. Usaha dan peluang bisnis usaha budidaya ikan betutu,Desa Sungai Buluh 2004
4. Usaha dan peluang bisnis budidaya ikan gurami, Desa Mantaas, 2005
5. Usaha dan peluang bisnin budidaya ikan tawes, Desa Rantau Bujur, 2005
6. Pembinaan koperasi. Desa Kuala Tambangan, 2003
7. Pembinaan koperasi Desa Tabanio, 2007
8. Prospek bibnis air tawar, Martapura 2005
9. Usaha lobster air tawar Martapura 2006
10. Prospek Usaha Pengolahan Pellet Lokal, Martapura 2006
11. Manfaat ikan bagi kesehatan dan penyembuh berbagai macam penyakit Martapura 2006
12. Analisis usaha pembesaran ikan patin di kolam Martapura 2006
13. Analisis pembenihan ikan patin. Martapura, 2007
14. Analisis usaha pembesaran ikan patin, Martapura 2007
15. Usaha pendederan dan pembesaran ikan patin, Martapura, 2007
16. Mengenali produk perikanan yang mengandung formalin, Martapura 2008.

17. 1. Suami : Prof.DR.Ir.H.Idiannor Mahyudin,M.Si
2. Anak :
1. Rizqi Puteri Mahyudin, S.Si (Mhs.S2 PSDAL
Unlam dan
Ridha Fadillah, S.Pd, M.Ed (Menantu)
2.Roja Putera Mahyudin (Siswa kelas III SMAN 1
Martapura)
3.Ratu Cindya Mahyudin (Siswa kelas V SDN
Jawa II Martapura)
4.Sultan Yunior Mahyudin, (Balita).

3. Orang Tua Kandung
a. Nama ayah : M.Yuseri Abdurrahman (Alm)
b. Nama ibu : Noor’alimah

4. Mertua
a. Nama ayah mertua : KH.Mahyudin (Alm)
b. Nama ibu mertua : Hj. Norsehan


Banjarbaru, 28 Januari 2009


Prof.Dr.Ir.Hj. Emmy Sri Mahreda. MP

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar